Posts

Showing posts from August, 2018

Trauma

Image
Gelap nan sepi, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suasana kamarku saat ini. Sebagian cahaya matahari menyusup lewat tiga lubang agak besar disisi tembok yang difungsikan sebagai ventilasi udara, tidak mampu menerangi gelapnya kamar ini. Kamar yang terletak diluar rumah tepat dibawah tangga dekat pagar belakang, itulah kamar yang aku tempati bersama dengan salah seorang temanku yang sedang melakukan study tour. Kamar ini dilengkapi sebuah jendela yang ditempeli kertas untuk menghalangi pandangan orang yang lalu lalang. Saat kubuka pintu kamar, cahaya sang mentari menyambut pagi hariku. Namun ada yang berbeda kali ini. Pagi yang biasanya disuguhi gelak tawa, alunan musik dan teriakan kini hilang seakan tertiup angin pagi entah kemana. Kebanyakan penghuni kamar lainnya sudah pulang kampung, karena telah melewati peperangan dengan setumpuk laporan dan pertanyaan-pertanyaan bisu dalam selembar kertas yang menghasilkan jawaban dalam beberapa halaman. "Sepertinya c...

Menghapus

Image
Teeettt...teeett. Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Semua siswa-siswi MAN Baraka berhambur keluar kelas untuk melepas penat mereka sejenak karena materi pelajaran. Kantin kini penuh dengan pelajar yang berdesak-desakan untuk melepas dahaga dan perut yang sedari tadi menyanyikan lagu keroncong. Suara kicauan burung, semilir angin berhembus memberikan kesejukan tersendiri bagi pelajar yang sedang beradem ria di teras sekolah dan didalam kelas. Suasana didalam kelas 3 IPA I saat ini cukup tenang. Lelah, lesuh, ngantuk, itulah yang dirasakan sebagai pelajar. Waktu menunjukkan pukul 12:30, menandakan sebentar lagi mereka akan meninggalkan kenyamanan sementara menuju dunia pelajar sesungguhnya. Beberapa dari mereka memilih tinggal di dalam kelas, saling bercengkerama antar chairmate sembari menunggu kelas berikutnya. Ada juga yang melepas penat dengan berkumpul di depan kelas, merasakan AC alami sambil bercanda ria karena kelas mereka tidak dilengkapi AC. Bunyi decitan ku...

Jika kugenggam tangan ayahku

Image
Teriknya matahari tidak nembuat seorang pria yang sedang berada di tengah ladang berhenti dalam melaksanakan tugasnya. Kulit keriput, kusam, mandi keringat karena paparan sinar matahari sudah hal biasa baginya. Demi memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami dan sebagai ayah, ia rela melakukan semua itu. Kicauan burung menjadi lagu, hembusan angin menjadi kipas untuk menghilangkan panas disekujur tubuh merupakan anugerah baginya sebagai perantau.  Menjadi seorang petani adalah pilihan terbaik baginya karena tidak memiliki riwayat pendidikan yang baik. Mulai dari menanam hingga panen ia lakukan sendiri, kemudian hasil panen dijual di kota oleh sang istri. Sore hari adalah waktu panggilan untuknya kembali ke rumah kecil yang tak jauh dari ladang. Ia tidak kembali ke kota karena jaraknya yang terbilang jauh. Pria itu  hanya kembali ke kota setelah musim panen. Di rumah itu, ia tinggal seorang diri. Istri dan dua orang anaknya tinggal di kota. Sesekali mereka ber...