Jika kugenggam tangan ayahku
Teriknya matahari tidak nembuat seorang pria yang sedang berada di tengah ladang berhenti dalam melaksanakan tugasnya. Kulit keriput, kusam, mandi keringat karena paparan sinar matahari sudah hal biasa baginya.
Demi memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami dan sebagai ayah, ia rela melakukan semua itu. Kicauan burung menjadi lagu, hembusan angin menjadi kipas untuk menghilangkan panas disekujur tubuh merupakan anugerah baginya sebagai perantau.
Menjadi seorang petani adalah pilihan terbaik baginya karena tidak memiliki riwayat pendidikan yang baik. Mulai dari menanam hingga panen ia lakukan sendiri, kemudian hasil panen dijual di kota oleh sang istri.
Sore hari adalah waktu panggilan untuknya kembali ke rumah kecil yang tak jauh dari ladang. Ia tidak kembali ke kota karena jaraknya yang terbilang jauh. Pria itu hanya kembali ke kota setelah musim panen. Di rumah itu, ia tinggal seorang diri. Istri dan dua orang anaknya tinggal di kota. Sesekali mereka berkunjung ke ladang saat masa panen.
Sesampai di rumah, ia langsung membersihkan diri lalu menyiapkan makan malam seorang diri.
Secangkir kopi, suara jangkrik dan cahaya obor menemani sang pemilik rumah yang sedang duduk diteras sembari memandang sekitar ladang. Sesekali ia menghisap rokok untuk menghilangkan rasa dingin dari udara di malam hari. Sesekali ia mengusap wajah dan menghela nafas, entah apa yang sedang ia pikirkan. Ia menatap langit malam hari yang dipenuhi taburan bintang.
"Musim hujan telah berlalu. Ada begitu banyak bintang bertaburan. Malam ini begitu dingin."
Pria ini kembali menghela nafas seraya menunduk. Ia mengeratkan jaket dan sarung ditubuhnya.
"Sepertinya musim kemarau akan tiba."
"Aku begitu merindukan mereka, anak-anakku."
Tiga hari semenjak ia mengatakan begitu merindukan anak-anaknya. Saat ia sedang duduk diteras rumah menikmati secangkir kopi dan rokok, salah seorang petani menghampirinya.
"Mudin, kemarin aku dari kota dan bertemu dengan saudaraku dari kampung. Ia menitipkan surat ini padaku untuk diberikan kepadamu."
"Bakar, kapan kamu pulang ke kota? Seandainya aku tau, aku ingin mengirimkan surat kepada keluargaku di kota."
"Maaf, saat itu aku buru-buru jadi saya tidak sempat memberitahukanmu.
"Oh iya, itu surat dari ibumu dikampung dan sepertinya dia akan datang. Istrimu sudah mengetahuinya." Lanjut Bakar.
"Baiklah, terima kasih Bakar."
Setelah Bakar pergi ke ladangnya, Mudin membuka surat itu.
Dua tahun telah berlalu semenjak terakhir kali aku bertemu kalian. Ibu begitu merindukan mereka. Jika tidak ada halangan, dalam waktu dekat ini ibu akan ketempatmu.
Ibu akan berangkat setelah masa panen agar hasil penjualan bisa ibu gunakan untuk ongkos ke tanah rantau dimana kalian berada. Ibu akan memastikan sendiri bagaimana kondisi kalian disana.
Saudara-saudaramu disini sudah mengelolah tanah yang sudah dibagi rata untuk kalian bertiga.
Setiba ibu ditempatmu nanti, baru kita bahas lagi.
Setelah membaca surat itu, Mudin melipat dan memasukkannya ke kantong celana. Ia membuang nafas dengan kasar, sesekali mengusap wajah. Ia termenung memikirkan kembali surat dari ibunya. Entah hal tersebut kabar baik karena kedatangan ibunya atau malah sebaliknya. Tak ingin larut dalam masalah surat, Mudin bangkit dari duduknya menuju ladang.
Hari demi hari telah berlalu semenjak Mudin menerima surat. Kala itu, mereka masih menggunakan sistem surat menyurat. Ketika Mudin hendak pergi ke ladang di pagi hari, saat itu juga Ibu beserta istri dan anaknya datang.
"Ayah!"
Suara melengking menghentikan langkah Mudin. Ia berbalik dan melihat kedatangan mereka.
"Oh rupanya kalian sudah tiba?!"
Dengan langkah besar, Mudin menuju sang gadis kecil yang berlari kearahnya lalu menggendongnya. Dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, Mudin menggiring mereka kedalam rumah.
"Jadi kamu tinggal sendirian disini?" Sang ibu membuka percakapan setelah makan malam dan berkumpul diruang tengah beralaskan tikar seadanya.
"Ia bu'. Saya baru pulang ke kota setelah panen. Kadang mereka juga datang berkunjung saat si Tano liburan."
"Jumi, bawa anak-anak ke kamar. Sepertinya mereka kelelahan."Mudin menyuruh Istrinya.
Setelah Jumi ke kamar membawa anak-anaknya, kedua orang tersebut memulai percakapan dengan serius.
"Bagaimana keadaanmu disini? apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Ia bu' seperti biasa."
"Apa kau tak lelah banting tulang di ladang, sedangkan istrimu hidup nyaman di kota dari penjualan hasil panen? Ibu sudah katakan sebelumnya, lebih baik kalian kembali ke kampung jika seperti ini. Bawa juga anak-anakmu."
"Ibu tidak usah ikut campur masalahku."
"Bukan maksud ibu ingin ikut campur masalah kalian. Itu demi kebaikanmu juga. Ibu lihat persediaan makananmu juga mulai habis. Apa dia tidak meninggalkan uang keperluanmu disini?"
"Cukup ibu!"
"Tidak! Jika kau diam saja, dia akan seperti itu terus."
"Ibu! Tidak ada yang seperti itu. Cukup! Aku sudah pusing memikirkan kalian. Aku ingin istirahat."
Mudin berlalu meninggalkan ibunya yang masih emosi.
Lima hari telah berlalu semenjak kedatangan keluarganya. Besok adalah hari kepulangan ibunya kembali ke kampung halaman. Malam ini, Mudin duduk diteras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Ibu dan anak-anaknya sudah terlelap, kecuali ia dan istrinya.
"Pak, besok mungkin aku akan pulang ke kota bersamaan dengan ibu yang akan ke pelabuhan. Jadi, hasil panen akan kami bawa lebih dulu."
"Terserah kamu."
"Dan juga..., aku mau Tani kutinggal disini bersamamu dulu. Akan sangat susah aku mengurus dan menjaganya saat aku jualan. Biar Tano aku bawa karena sebentar lagi juga ia sekolah."
"Baiklah"
Mudin hanya mengiyakan permintaan istrinya, karena ia sudah bingung apa yang harus dilakukan.
Sudah sepekan semenjak ibu beserta istri dan seorang anaknya kembali ke kota. Begitu pula dengan keseharian Mudin beserta anak keduanya yang masih berumur empat tahun, berjalan seperti biasanya. Ibunya yang sudah sampai dikampung halamannya, istri dan anak pertamanya yang memulai aktivitas seperti biasa di kota.
Saat kembali ke rumah mereka yang tidak jauh dari ladang untuk memasak, ia melihat tempat penampungan beras yang isinya mulai habis. Gula dan kopi pun juga sama. Uang yang terakhir kali diberikan oleh ibunya sudah habis. Setidaknya masih ada yang bisa dimasak untuk malam ini untuk dia dan anaknya. Besok ia akan kembali ke kota mengambil uang untuk keperluan sekalian membeli persediaan makanan.
Saat Mudin dan anaknya berjalan meninggalkan rumah, mereka bertemu dengan Hami'. Hami' adalah saudara perempuan dari ibu Mudin yang kebetulan juga tinggal diarea perkebunan sebagai perantau.
"Kalian mau kemana?"
"Kami akan kembali ke kota dulu."
Sepeninggal Mudin, Hami' masuk ke rumah Mudin yang tidak pernah terkunci sekalipun ia ke kota. Diedarkan pandangannya melihat seisi rumah kebun itu. Saat kedapur, ia membuka kendi besar terbuat dari tanah liat. Sungguh miris hatinya melihat isi kendi tersebut. Hanya tinggal beberapa butir beras. Ia melihat kaleng tempat gula dan kopi, isinya juga kosong.
"Mereka kelaparan sedangkan istrinya enak-enakkan tanpa memikirkan suami dan anaknya."
Hami' keluar dari rumah itu dan memandang lurus jalan dimana Mudin dan anaknya berlalu tadi. Ia tidak habis pikir jika keadaan keponakannya seperti ini. Ia sudah mendengar bagaimana keadaan rumah tangga keponakannya selama ini dari saudaranya. Bahkan ia sering medengar pertengkaran kecil antara sepasang suami istri itu.
Hami' juga pernah mendengar tentang Jumi, istri Mudin yang sering bercengkerama dengan lelaki lain dikota setiap selesai magrib secara sembunyi-sembunyi. Tapi ia tidak mempercayainya begitu saja jika ia tidak melihatnya secara langsung.
"Sungguh malang nasibmu Mudin. Tapi, kalian berdua sungguh keras kepala. Satu kasar dan yang satu tidak bisa dikasari."
Hami' wanita lanjut usia itu pergi meninggalkan rumah mudin yang kosong.
Suasana kota begitu ramai. Setelah setengah hari menempuh perjalanan, Mudin tiba dirumah. Keadaan rumah begitu sepi meskipun berada di tengah-tengah kota. Ia duduk sejenak melepas penat sembari menunggu istri pulang dari pasar.
"Ayah! Aku lapar juga haus."
"Tunggu, sebentar lagi ibu pulang. Ayah tidak pegang kunci rumah."
Tani mulai merengek karena lapar dan haus. Sedari pagi mereka belum makan. Tak lama kemudian, dari kejauhan nampak Mudin lihat istri dan anak pertamanya masih dengan seragam sekolah datang.
"Ma, Ayah datang!"
Tano segera berlari ke Ayahnya yang sedang menggendong Tani yang baru saja tertidur karena kelelahan dan lapar.
"Oh, kalian sudah datang?! Dari tadi?"
"Baru saja. Cepatlah buka pintu dan siapkan makanan. Kami belum makan dari tadi pagi. Aku lelah. Aku ingin istirahat terlebih dahulu."
Mudin masuk ke dalam rumah dengan muka datar. Ia membawa putrinya yang tertidur didalam gendongannya, sedangkan Tano mengikuti langkah ayahnya. Jumi menuju arah dapur masih dengan muka herannya.
Aku kira mereka akan datang dua hari lagi? Apa terjadi sesuatu? monolog Jumi dalam hatinya.
Tapi ia tidak bertanya langsung kepada suaminya. Tanpa pikir panjang, ia menyiapkan makan malam untuk mereka.
Ruang tengah begitu hening. Tak ada percakapan antara pasangan suami istri yang sedari tadi menonton acara tv yang masih menampilkan gambar hitam putih itu. Tak ada yang memulai percakapan. Entah karena acara yang mereka tonton terlau menarik, ataukah tak ada hal penting yang perlu mereka bahas. Hanya suara tv yang terdengar diruang tengah memecah keheningan.
"Aku kira kalian akan kembali dalam 2 hari yang akan datang?"
"Seharusnya memang seperti itu, tapi kami tidak bisa menahan rasa lapar selama itu. Aku tidak mampu mengolah kebun dengan rasa lapar."
"Kamu kan bisa belanja di sana?"
"Memang disana ada yang menjual meskipun hanya beberapa saja karena area perkebunan, tapi kamu pikir kita belanja pakai daun? Orang belanja pakai uang. Sedangkan kami kehabisan uang, dan kamu tidak meninggalkan uang kepada kami. Harusnya kamu mengerti sendiri apa yang harus kamu lakukan, paling tidak kamu mengirimkan bahan makanan dari kota!"
Awalnya Mudin yang berbicara datar kini nadanya mulai meninggi. Emosi kini menguasai dirinya. Entah karena apa ia berbicara kasar kepada istrinya.
"Berikan aku uang untuk keperluan disana. Aku juga ingin membeli beberapa peralatan pertanian. Besok pagi aku kembali ke ladang."
"Ya ampun, Pak! Darimana aku ambil uang. Aku tidak pegang uang. Uang hasil penjualan sayur yang aku bawa kemarin bersama ibumu sudah aku berikan kepadanya sebagian, dan selebihnya juga aku gunakan untuk keperluan Tano."
Mudin hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir istrinya akan berkata demikian. Dia kemanakan semua hasil berkebun selama ini, jika uang untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak ada.
"Kamu tahu? bertani itu berat. Mencangkul ditengah panas matahari atau ditengah hujan itu sungguh melelahkanku. Tiap hari aku kerja diladang dengan alasan untuk menghidupi kalian, tapi apa yang aku dapat. Jangankan mengurus pakaian kotorku, memperhatikan makanan kami disanapun kamu tidak bisa!"
"Ya Tuhan, pak! Bukannya aku tidak mau mengurus keperluan kalian disana, tapi kamu bisa liat sendiri bagaimana keadaan kita. Aku juga seharian dipasar menjual, mengurus Tano juga yang sedang sekolah. Jarak dari kota kesana itu sangat jauh, butuh setengah hari!"
"Kamu sudah berani melawan?!"
Mudin yang tadinya duduk kini berdiri. Dirinya kini dikuasai amarah. Suasana yang tadinya hening kini menjadi tegang. Ia mendongakkan kepalanya sebentar sambil berkacak pinggang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kumpulkan semua piring-piring itu dihadapanku sekarang!"
Sang istri hanya terdiam ditempatnya yang tidak berani membantah. Saat itu juga, Jumi mengumpulkan piring-piring kaca ke hadapan Mudin. Ia tak berani bertanya untuk apa piring-piring itu.
Disebuah ruangan yang gelap, seorang gadis kecil duduk bersandar dibalik pintu kamar. Ia memeluk kedua lutut dan menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya. Ia terisak. Orang tua mereka tidak menyadari jika sedari tadi, gadis kecil itu melihat pertengkaran mereka.
Saat teriakan kembali terdengar, ia berdiri dan mengintip dari celah pintu. Dari ruangan gelap itu, ia melihat dua orang yang sedang berargumen satu sama lain. Ia tidak mengerti apa yang mereka bahas. Akan tetapi, ia mengerti betul jika mereka sedang marah. Dengan muka datar, ia melangkah dengan pelan untuk membuka pintu kamar sedikit-demi sedikit agar tidak terdengar. Ia menoleh ke arah tempat tidur, kakaknya masih terlelap. Ia kembali menatap keruangan tengah.
"Akan aku pecahkan semua piring-piring tak berguna ini. Semua barang ini juga kamu beli dari hasil kerja kerasku!"
Mudin bersuara yang tiba-tiba datang dari dapur membawa balok kayu. Ia langsung berdiri ditengah-tengah piring tersebut.
"Kamu pikir hanya kamu yang bekerja disini? Aku juga lelah seharian dipasar untuk menjual hasil panen! Jangan coba-coba memecahkan barang-barangku!"
Mudin yang tidak mendengarkan perkataan istrinya bersiap-siap mengayunkan balok itu untuk memecahkan piring, namun gerakannya terhenti saat suara anak kecil memanggilnya.
"Ayah!"
Dari ruang tengah, Mudin melihat gadis kecilnya berjalan kearah mereka berdua dengan wajah yang sedikit ditekuk. Gadis itu mencoba menahan tangisnya. Jumi terdiam melihat anaknya yang tiba-tiba datang.
"Ayah, Mama! Kenapa piringnya mau dipecahkan?"
Tangan mungil gadis kecil itu memegang tangan ayahnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap sang ayah. Jumi masih terdiam dan kembali duduk. Ia mencoba menahan tangis.
"Ayah kenapa marah? Mama menangis?"
Mudin langsung melempar asal balok itu, kemudian menggendong Tani. Ia pergi meninggalkan Jumi yang masih terisak. Sebelum hilang dibalik pintu kamar, Mudin kembali bersuara dengan dinginnya.
"Jangan coba-coba kamu sentuh piring-piring itu. Akan aku jual semuanya besok!"
Bahkan kamu tidak tahu dan bertanya kenapa aku seperti itu selama ini. Kamu memang sungguh egois pak. Monolog Jumi dalam hati.
Malam yang penuh ketegangan dan emosi kini tergantikan pagi yang begitu sepi. Suasana sarapan bersama begitu tenang. Hanya dentingan sendok dan piring yang memenuhi ruangan. Kebersamaan keluarga yang biasanya diselingi tawa dan canda, namun itu semua tak berlaku di keluarga Mudin. Hanya suara Tano dan Tani sesekali yang terdengar karena bertengkar. Bahkan, ayah dan ibunya tak berniat menegur mereka. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa benar tidak ada uang sama sekali yang bisa kau berikan padaku?"
"Aku kan sudah bilang..."
"Tak usah dilanjutkan. Tani cepat habiskan makananmu dan kamu Tano, cepat selesaikan sarapanmu lalu kesekolah." Setelah berkata, Mudin berlalu meninggalkan ruang makan.
Diruang tengah, Jumi terdiam sendiri. Ia memikirkan untuk apa suaminya menjual semua piring-piring itu. Tidak hanya piring, kabar yang ia dengar jika suaminya juga menjual perahu kecil milik mereka yang biasa digunakan masuk tambak. Dan untuk apa suaminya masih meminta uang tadi pagi sebelum kembali ke ladang, padahal dia sudah menjual sebagian barang-barang penting.
Pagi buta begini masih waktu yang nyaman untuk terlelap. Akan tetapi, Jumi terbangun karena suara ketukan pintu mereka. Saat ia membuka pintu, nampak Mudin membawa tas di salah satu tangannya. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun, begitu pula Jumi.
"Pagi ini aku akan kembali ke kampung. Aku akan membawa Tani."
"Apa? ke kampung dan membawa Tani? Tidak! Aku tidak setuju."
"Aku akan tetap membawanya."
"Pak, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Aku tidak mau memisahkan anak-anak. Mereka masih terlalu kecil!"
"Aku tetap membawanya dan kamu rawat Tano. Aku akan menceraikanmu."
"Pak! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa salahku?!"
"Kamu sudah tahu persis dimana letak kesalahanmu. Aku sudah mendengar semuanya! Aku akan tetap membawanya, terserah apa katamu."
Hening. Untuk beberapa saat tidak ada lagi yang bersuara. Jumi mencoba menahan tangisannya. Mudin hanya bersikap dingin, tidak peduli dengan keadaan.
"Baiklah, aku menerima keputusanmu. Akan tetapi, tolong biarkan kami mengantar kalian hingga ke pelabuhan."
"Terserah."
Pada akhirnya Mudin membawa Tani. Jumi hanya bisa menerima keputusan sepihak suaminya.
Suasana pelabuhan begitu ramai. Burung beterbangan seakan membawa pesan dari laut. Hembusan angin yang menyejukkan. Hamparan lautan yang begitu biru dan tenang menambah kedamaian hati. Akan tetapi, suasana seperti itu tidak dialami pasangan suami istri Mudin dan Jumi.
Jumi memeluk begitu erat gadis kecilnya. Tani hanya diam tak tau harus bagaimana. Ia tidak mengerti situasi ini. Mudin hanya diam disudut bangku ruang tunggu sambil mendudukkan Tano dipangkuannya. Sesekali ia mengusap surai hitam anaknya.
Suara pengumuman terdengar diruangan tunggu tanda bagi calon penumpang untuk menaiki kapal. Suara tersebut bagaikan cambuk bagi Jumi. Suara itu menandakan ia harus berpisah dengan gadis kecilnya. Linangan air mata dipipi sang ibu kembali terlihat. Mudin sesegera mungkin membawa Tano ke pada Jumi dan mengambil Tani dari pelukan ibunya. Secepat mungkin Mudin menyambar tas yang berisi beberapa helai pakaiannya dan berlalu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia tak menyangka jika ini akan menjadi hari perpisahan keluarga mereka. Anak-anak mereka menyaksikan sendiri bagaimana mereka berpisah tanpa mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
Suasana didalam kapal begitu ramai dan sesak. Mudin memutuskan untuk keluar menuju teras kapal membawa Tani. Mudin menurunkan putrinya dari gendongan. Ia berdiri menghadap hamparan lautan yang begitu luas. Tangannya memegang erat pagar besi pinggir kapal. Tatapannya begitu kosong. Matanya memerah mencoba menahan tangis tapi tak berhasil. Hembusan angin laut membawa tetesan air mata sang ayah bercampur air laut yang biru.
Suara pertanda kapal mulai berlayar terdengar semakin membuat Mudin begitu sesak. Bukan karena penumpang yang begitu banyak ataupun pasokan oksigen yang berkurang. Ia merasa begitu sesak, karena hari itu juga menjadi hari terakhir kalinya untuk mmenginjakkan kaki di tanah rantau itu.
"Ayah!"
Suara gadis kecil membuat Mudin yang sedari tadi terdiam seketika menoleh kearahnya. Gadis itu tersenyum. Seketika ia merapat ke Mudin dan tangan mungilnya mencoba meraih tangan ayahnya yang masih setia menggenggam pagar besi tapi tidak sampai.
Melihat hal itu, Mudin mengulurkan salah satu tangannya dan dengan cepat gadis itu meraih tangan sang ayah.
Mudin bersyukur masih ada seseorang yang menjadi penyemangat hidupnya. Ia menggenggam lembut tangan putrinya dan menatap hamparan lautan yang begitu biru. Hari itu juga menjadi hari dimana ia bersumpah untuk tidak lagi menginjakkan kaki dipulau ini dan melihat istrinya.
Angin kembali berhembus bersamaan dengan kapal yang mulai berlayar. Ia hanya berharap angin itu membawa semua kenangan buruk dan luka begitu jauh. Bersamaan dengan berlayarnya kapal ini, Mudin berharap akan hidup lebih baik bersama dengan putrinya.
Ayah, jangan sedih. Aku akan selalu disisi ayah. Biarpun ibu tidak bersama kita, aku yakin kita bisa lebih baik. Ayah, ayo hidup bahagia. Monologku dalam hati.
Seketika kuhentikan kegiatanku sesaat. Aku mencoba merenggangkan otot-ototku. Jari-jari tanganku terasa pegal. Aku menghela nafas panjang dan bersandar dikursi.
"Itulah kalimat yang ingin kusampaikan pada saat aku menggenggam tanganmu ayah. Saat itu aku masih terlalu kecil jadi tidak tahu apa-apa."
"Woi!, kamu nulis lagi?"
"Astaga! Kamu ngagetin aja Mer. Untung aku tidak jantungan."
"Soalnya kamu serius banget. Dari tadi aku ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban jadi aku masuk aja mumpung tidak terkunci. Jadi kamu nulis apa kali ini?"
"Biasalah, potongan memori masa kecilku. Aku cuman iseng buat cerita, jadi yah gitulah. Lagian kamu lama banget datangnya jadi aku sempatin nulis."
"Maaf. Kalau begitu, ayo mulai diskusi proposalku. Bantuin yah? Tapi nanti aku boleh liat tulisan kamu tadi? Aku penasaran."
"Ck, baiklah. Kalau begitu cepat mulai. Setelah ini ayo kita keluar. Aku ingin menenangkan pikiranku."
Aku mulai membantu temanku dalam menyusun proposal. Dua jam telah berlalu dan kami putuskan untuk berhenti sejenak. Aku berbaring disamping temanku dan menatap langit-langit kamarku.
"Ayo keluar. Nanti baru lanjut."
"Baiklah, Let's go!"
Waktu telah menunjukkan tengah hari di negeri sakura ini, tapi suhunya mengalahkan musim hujan Indonesia. Kurapatkan mantel yang kugunakan dan memasukkan tanganku ke kantong mantel. Penduduk lalu-lalang mencoba untuk mencari kehangatan.
"Tani! Kamu kenapa diam? Ah, bagaimana jika kita nanti singgah di kafe coffee dekat sini!"
"Aku rindu ayahku, Mer. Aku juga ingin merindukan ibuku, tapi bagaimana bisa aku merindukannya? bahkan wajahnya aku tidak ingat."
"Aku rindu ayahku, Mer. Aku juga ingin merindukan ibuku, tapi bagaimana bisa aku merindukannya? bahkan wajahnya aku tidak ingat."
"Jadi itu yang selama ini kamu pikirkan? Tenanglah, sebentar lagi kamu kan balik ke Indonesia. Kamu bisa segera bertemu ayahmu. Genggam tangannya, ucapkan terima kasih dan katakan jika kamu menyayanginya."
"Entahlah. Itu terlalu canggung bagiku. Aku terbiasa diam saja. Tapi akan kucoba."
Kami menapaki sepanjang jalan yang dihiasi salju di tengah kota Tokyo. Pohon bunga sakura yang biasanya diselimuti bunga kecil berwarna pink, kini diselimuti salju seakan membekukan ranting-ranting pohon.
Dinginnya salju kota Tokyo yang hinggap dimantelku seakan membuat hatiku beku akan masa kecilku. Dimasa kecilku, mungkin memang ada luka tapi telah terkubur jauh. Luka itu seakan jejak sepatu kami diatas salju yang akan tertutup kembali seiring bertambahnya salju yang turun menutupi tanpa meninggalkan jejak.
Ayah, sampai saat ini aku belum tahu alasan kalian berpisah. Aku tidak berani bertanya padamu takut jika kamu terluka, dan Ayah juga tidak menjelaskan apa-apa padaku takut jika aku akan sedih. Jadi, biarlah tetap seperti ini ayah. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan kita sekarang.
Ayah, sampai saat ini aku belum tahu alasan kalian berpisah. Aku tidak berani bertanya padamu takut jika kamu terluka, dan Ayah juga tidak menjelaskan apa-apa padaku takut jika aku akan sedih. Jadi, biarlah tetap seperti ini ayah. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan kita sekarang.

Comments