Trauma
Gelap nan sepi, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suasana kamarku saat ini. Sebagian cahaya matahari menyusup lewat tiga lubang agak besar disisi tembok yang difungsikan sebagai ventilasi udara, tidak mampu menerangi gelapnya kamar ini. Kamar yang terletak diluar rumah tepat dibawah tangga dekat pagar belakang, itulah kamar yang aku tempati bersama dengan salah seorang temanku yang sedang melakukan study tour. Kamar ini dilengkapi sebuah jendela yang ditempeli kertas untuk menghalangi pandangan orang yang lalu lalang.
Saat kubuka pintu kamar, cahaya sang mentari menyambut pagi hariku. Namun ada yang berbeda kali ini. Pagi yang biasanya disuguhi gelak tawa, alunan musik dan teriakan kini hilang seakan tertiup angin pagi entah kemana. Kebanyakan penghuni kamar lainnya sudah pulang kampung, karena telah melewati peperangan dengan setumpuk laporan dan pertanyaan-pertanyaan bisu dalam selembar kertas yang menghasilkan jawaban dalam beberapa halaman.
"Sepertinya cuaca hari ini memberiku kesempatan untuk mencuci pakaian kotor. Mumpung mood sang mentari lagi bagus, aku harus memanfaatkan kesempatan ini daripada nantinya aku tidak pulang kampung sama sekali. Lagian besok sepertinya akan turun hujan, paling tidak sebentar malam soalnya hari ini panas sekali. Tapi tidak masalah agar cucian cepat kering. Cucian cepat kering, cepat pulang kampung," gumamku seraya melihat langit
Aku memulai aktivitas seperti biasa. Tiba-tiba pintu kamar tetanggaku terbuka, menampakkan seorang wanita dengan rambut masih acak-acakan khas baru bangun tidur. Dia sedang menyingkirkan makhluk tak bernyawa dan tak diinginkan keberadaannya, apalagi kalau bukan sampah.
"Baru bangun?" sapaku menyambut paginya.
"Tidak, saya sudah bangun dari tadi" jawabnya.
"Aku pikir kamu baru bangun tidur langsung menyapu hahaha, soalnya dari tadi tidak kedengaran ada tanda-tanda kalau kamu sudah bangun" balasku sambil tersenyum.
"Ah haha biasalah aku fokus kerja laporan, huh rasanya kepalaku ingin pecah pikir laporan terus".
Aku hanya membalas dengan tawa melihat muka masam dan lelahnya masih berusaha menyingkirkan makhluk tak diinginkan itu dikamarnya, hingga suara serak wanita menginterupsi kegiatan kami dan aku paham betul siapa pemilik suara ini.
"Oh, belum pulang kampung Nan?"
"Belum bu' berkasku dikampus belum selesai saya urus" balasku.
"Bagaimana denganmu Amma?"
"Sepertinya dalam waktu dekat ini".
Suasana kembali hening. Kami kembali fokus pada kegiatan masing-masing. Aku dengan kegiatanku menjemur cucian, Amma sibuk dengan kegiatan menyapu, dan sang pemilik kamar kontrakan sepertinya memiliki kesibukan sama dengan Amma. Wanita yang menyapa kami dengan suara serak itu adalah pemilik kamar yang kami kontrak.
Angin sepoi-sepoi berhembus, setidaknya mengurangi rasa panas yang menjalar di sekujur wajahku akibat paparan sinar matahari. Suara hewan kecil entah dimana keberadaannya, bentuk dan namanya pun tak kuketahui membuat suasana siang hari lebih tenang hingga seseorang mengambil alih perhatianku.
Dia adalah seorang pria. Umurnya sekitaran kepala tiga, rambut gelombang, memiliki tatapan seakan mengintimidasi, kulit sawo matang, dan tinggi bisa dikatakan diatas rata-rata, katakanlah tanpa berjinjit sekalipun ia mampu melihat isi kamarku lewat bagian atas jendela yang tidak tertutupi kertas, dimana letaknya cukup tinggi bagi kami para kaum hawa.
Aku masih setia dengan kegiatanku, dan sesekali melihat pria itu hingga dia berhenti tepat didepan pagar belakang dekat tempatku sekarang menjemur cucian. Aku ingin menyapanya, tapi rasanya terlalu malas mengeluarkan suara untuk orang yang baru pertama aku lihat. Pria itu hanya berdiri sambil melihat kedalam area rumah.
Apa yang sedang ia cari? monologku dalam hati.
Aku hanya mengernyitkan dahiku saking penasaran apa yang sedang ia cari. Kutolehkan kepalaku ke Amma, tapi sepertinya dia juga memiliki pemikiran yang sama denganku ,hingga suara serak itu kembali menginterupsi percakapan batin kami.
"Ada apa ya pak?"
Bukannya menjawab, pria itu malah pergi tanpa sepatah katapun. Aku hanya memandang punggung pria yang semakin menghilang di ujung gang dengan penuh tanda tanya.
"Orang tadi itu kenapa ya?"tanyaku melirik Amma dan juga ibu pemilik kontrakan.
Amma hanya mengendikkan bahunya tanda tak mengerti sambil duduk di depan pintu mengulurkan kaki jenjangnya. Sepertinya ia sudah menyelesaikan acara menyapunya.
"Mungkin lagi mencari kamar kosong untuk dikontrak. Sekarang lagi musim mahasiswa baru kan?"jawab sang pemilik suara serak.
Aku hanya ber oh ria saja menanggapinya. Kalau memang niat mencari kamar untuk dikontrak, kenapa tidak bertanya dan juga kenapa laki-laki tua?, ah mungkin ada kerabatnya yang ia carikan, monologku dalam hati.
Percakapan kami terus berlanjut hingga satu persatu dari kami menyudahinya, karena masih banyak kegiatan lainnya yang harus diselesaikan.
Halaman bersih tertata rapi, cucian masih setia berjemur dibawah terik matahari, memberikanku kelegaan tersendiri saat beranjak untuk menyelesaikan urusanku di kampus.
Ddrrrrttt dddrrtttt... getaran handphone mengagetkanku dari alam mimpi. Marah, kesal, pening bercampur kantuk itulah yang kurasakan ketika tiba-tiba terbangun karena dikagetkan.
"Halo" jawabku dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Suara riuh panggilan membuatku bingung, kulihat sekali lagi nama panggilan yang tertera.
"Astaga, ini sambung berapa?! ribut sekali, kalian tau, kalau kalian mengganggu tidurku?!" dengan sengaja aku buat suara semarah mungkin untuk sekedar jahil.
"Heiii, astaga Nan!, ini baru jam berapa?! kamu aja tuh terlalu awal tidurya, padahal kita ingin bahas reunian" balas seorang cewek dan diikuti gelak tawa pria dan wanita lainnya, kuyakini mereka teman-teman SMA ku dulu.
"Hehehe, baiklah teruskan"balasku.
Kulirik jam sekilas, ternyata menunjukkan pukul 22.45 dan heyy mereka bilang ini baru jam berapa?! ini sudah tengah malam. Udara malam ini cukup dingin, ditambah suara yang ditimbulkan atap seakan roboh karena tiupan angin cukup kencang, dan suara rintik hujan menambah kesan horor.
Perbincangan kami rerus berlanjut hingga suara gembok membuatku terdiam. Aku baru sadar jika di kontrakan ini tinggal aku sendiri, Amma si tetangga kamarku belum pulang dari rumah temannya, sedangkan pemilik kontrakan berada dilantai dua.
"Ssttt..diam dulu"kataku masih dalam ketakutan.
"Kenapa Nan?"jawab seorang pria diseberang telepon.
"Nggak, tadi ada suara gembok seperti dibuka , tapi siapa keluar tengah malam seperti ini?, yang aku takutkan ada pencuri, saya sendirian lagi" balasku.
"Mungkin orang baru pulang atau memang ada pencuri haha"balasnya.
"Aihh, jangan menakutiku!, asal kalian tau, dikompleks tempatku lagi marak perampok, kemarin ada tetangga rumah dirampok, untung penghuninya tidak diapa-apain" balasku mencoba untuk tenang.
Aku sudah tidak fokus pada perbincangan kami ditelpon, hingga aku memutuskan untuk mengakhiri panggilan grup ini.
"Maaf teman-teman aku tutup dulu, sampaikan saja nanti keputusan tentang reuniannya"kataku mengakhiri panggilan.
"Kenapa perasaanku tidak tenang?, semoga Amma pulang malam ini" kataku pada diri sendiri.
Karena masih gelisah, kuputuskan untuk tidur melantai didepan pintu dekat jendela. Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku karena kedinginan hingga terlelap.
Entah karena alasan apa, tiba-tiba aku terbangun. Hanya sekedar membuka mata tanpa bergerak sedikitpun.
Kutatap tembok dihadapanku, kebetulan kali ini aku tidak mematikan lampu sebelum tidur, sehingga dengan jelas kulihat waktu menunjukkan pukul 03.07. Kutolehkan pandanganku ke bagian atas jendela yang tidak tertutupi kertas, tak selang beberapa detik, pandanganku langsung tertuju pada pandangan seseorang dari luar. Ia mengedarkan pandangannya melihat isi kamarku, hingga tatapan kami bertemu. Rambut gelombang dan tatapan yang menyeramkan, membuatku tersadar sepenuhnya hingga pandangan dua bola mata itu menghilang dari balik jendela.
"Siapa diluar?" teriakku tapi tak ada sahutan.
Aku yang terbaring langsung terduduk karena suara gedoran pintu tepat disamping kananku membuatku gemetar. Lidahku keluh tak bisa bersuara lagi karena ketakutan, hingga gedoran pintu untuk kedua kalinya menyadarkanku, secepat kilat ku gedor tripleks pembatas kamar Amma yang bersebelahan dengan kamarku.
"Amma.., Amma!!!"teriakku frustasi sambil memukul tripleks agar ia terbangun.
Aku tidak tau, apakah semalam ia pulang atau tidak. Tetap tidak ada sahutan meskipun suara gedoran pada pintuku sudah berhenti. Mulutku gemetar untuk berteriak lagi hingga aku menangis ketakutan.
"Ibu!!!...ibu!!!" kini kupanggil tuan rumah.
Aku juga tidak tau, mereka mendengarnya atau tidak karena derasnya hujan mengalahkan teriakanku. Angin berhembus seakan memporak-porandakan sekitarnya. Gedoran dipintuku kembali terdengar.
"Nan..Nan, buka pintunya! Kamu kenapa?" seseorang memanggilku dari luar, suaranya familiar tapi aku tidak begitu yakin.
"Kau kah itu Amma?" jawabku untuk memastikan pemilik suara itu dengan suara bergetar.
Aku masih duduk meringkuk disamping ranjang menunggu jawaban.
"Ia, saya Amma. Buka pintunya, kamu kenapa?"balasnya.
Aku memberanikan diri membuka pintu kamar, kulihat Amma dengan muka panik dan khawatirnya.
Aku langsung terduduk dan menahan tangisku karena masih kaget akan tatapan tadi, hingga pemilik rumah datang menghampiri kami beserta suaminya lengkap dengan golok ditangannya.
"Kenapa tadi kamu berteriak?" ibu pemilik kontrakan bertanya dan mencoba menenangkanku.
Kuceritakan kejadian tadi kepada mereka.
"Astaga! pantas gembok pagar depan rusak!, lampu teras padam dan terlepas, ini pasti ulah maling itu!"
Kuedarkan pandanganku melihat keadaan sekitar, halaman depan nampak gelap, kondisi pagar yang terbuka begitupun dengan pagar belakang rumah. Hanya ada satu lampu menerangi kami mekipun redup yang terdapat didepan kamarku.
"Gembok pagar belakang juga rusak!" kata suami pemilik kontrakan masih setia dengan golok ditangannya membuatku bergidik ngeri.
"Tadi kamu betulan liat ada orang disini?"
"Ia, serius. Tapi hanya sebatas mata dan rambut saja, karena saat itu ia mengintip dari luar jendela dan tidak sengaja pandangan kami bertemu" jawabku meyakinkan mereka.
"Disini juga ada jejak kakinya." Balas pemilik kontrakan menunjuk jejak kaki tanpa alas yang masih basah didepan pintu kamar Amma dan kamarku.
"Pantesan, laptopku hampir saja diambilnya!"Amma memekik.
"Sepertinya dia ke kamarku terdahulu sebelum ke kamarmu. Saat aku mendengar teriakan, aku terbangun dan aku lihat salah satu kunci pintu kamarku sudah terlepas dan rusak, aku baru sadar jika laptop saya letakkan di dekat pintu. Untung aku pasang dua kunci, mungkin karena kesusahan untuk membuka kunci lainnya, dia langsung kekamarmu" katanya meyakinkanku.
Saat aku mulai tenang, kami putuskan untuk kembali istirahat karena udara semakin dingin dan hujan tak kunjung reda. Akan tetapi, aku kembali khawatir meskipun pemilik kontrakan memutuskan untuk tetap terjaga karena kejadian subuh ini.Aku tetap terjaga hingga pagi hari.
Masih banyak yang mengganggu pikiranku. Bagaimana jika maling itu dendam padaku karena melihatnya dan dia berfikiran jika aku akan melaporkannya kepada polisi?, bagaimana jika saya keluar rumah, ia menungguku ditengah jalan dan mencelakaiku?
Tatapan itu masih jelas terngiang dikepalaku, sungguh mengerikan dan mengejutkanku. Tapi, dari tatapannya dan rambut sepertinya aku pernah liat sebelumnya. Pria jangkung depan pintu pagar belakang kemarin siang, tiba-tiba terlintas difikiranku. Tapi bisa jadi bukan, bisa jadi ia.
Hari ini aku tidak jadi pulang kampung, karena sebentar malam teman dari teman sekamarku pulang dari study tour dan ingin menginap, selain itu berkasku juga belum selesai ku urus. Jadi seharian aku hanya berada di kamar.
Hujan tak kunjung reda meskipun tidak sederas tadi subuh. Cahaya kilat sesekali muncul menerangi gelapnya langit. Aku tidak tenang dan gelisah jika berada didalam kamar sendirian, jadi aku putuskan duduk diluar kamar gegara kejadian tadi subuh.
Sesekali kuperiksa pesan di hanphoneku untuk memastikan kapan Amma pulang. tadi pagi, ia keluar bersama temannya membeli tiket untuk pulang kampung besok. Sayangnya Amma tidak bisa kembali karena terjebak hujan, untunglah malam ini rombongan study tour pulang jadi setidaknya ada orang menemaniku sebelum aku pulang besok.
Sepanjang hari aku tetap tidak tenang hingga siang yang gelap berganti malam. Aku tetap terjaga menunggu mereka datang. Waktu menunjukkan pukul 20.10 tapi belum ada tanda-tanda kedatangan mereka. Pintu kamar sudah aku kunci dan lampu tetap kubiarkan menyala.
Angin masih bertiup kencang dan hujan gerimis. Sesekali bunyi gemerincing terdengar dan berhasil membuatku ketakutan. Kutarik selimut menutupi sekujur tubuhku yang gemetar. Suara itu kembali terdengar dikala angin bertiup kencang. Aku tau jika bunyi itu disebabkan oleh gembok yang terus bergoyang karena hembusan angin. Aku mencoba untuk tetap tenang hingga dua orang dari rombongan study tour datang.
"Untung kalian pulang malam ini, jadi ada yang menemaniku" sambutanku pada mereka berdua.
Kami tidur melantai bersama. Setidaknya rasa ketakutanku berkurang. Saat kucoba untuk tidur, suara itu kembali terdengar dan lampu tiba-tiba padam. Ketakutanku kembali lagi. Kucoba untuk menahan tangisanku, tubuhku gemetar. Salah seorang dari mereka menyadari ketakutanku.
"Nan, kamu kenapa? Istigfar Nan!" ia mencoba menenangkanku.
"Bunyi gembok lagi, sangat gelap!"balasku dengan suara gemetar.
"Sudah tidak apa-apa ada kami. Tidurlah".
Ia mencoba menenangkanku dengan menggenggam tanganku dan membaca ayat kursi hingga aku terlelap. Aku tidak menceritakan kejadian kemarin subuh kepada mereka berdua.
Pagi kembali menyambutku. Hari ini mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang kampung seusai study tour, dan aku juga selesai berkemas untuk pulang kampung. Masih ada urusan di kampus yang belum rampung, dan itu hanya bisa dituntaskan pada esok hari dan terpaksa aku minta bantuan temanku untuk menyelesaikannya, karena aku sudah ketakutan untuk tinggal sehari lagi dikamar sendirian. Jadi kuputuskan untuk pulang kampung hari ini juga.
Semenjak kejadian itu, tiap kali aku mendengar bunyi gemerincing gembok atau kunci , aku kembali ketakutan dan gemetar, apalagi saat terbangun diwaktu subuh dalam suasana ruangan gelap dan hujan.
that picture belongs to me

Comments