Menghapus
Teeettt...teeett. Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Semua siswa-siswi MAN Baraka berhambur keluar kelas untuk melepas penat mereka sejenak karena materi pelajaran. Kantin kini penuh dengan pelajar yang berdesak-desakan untuk melepas dahaga dan perut yang sedari tadi menyanyikan lagu keroncong.
Suara kicauan burung, semilir angin berhembus memberikan kesejukan tersendiri bagi pelajar yang sedang beradem ria di teras sekolah dan didalam kelas.
Suasana didalam kelas 3 IPA I saat ini cukup tenang. Lelah, lesuh, ngantuk, itulah yang dirasakan sebagai pelajar. Waktu menunjukkan pukul 12:30, menandakan sebentar lagi mereka akan meninggalkan kenyamanan sementara menuju dunia pelajar sesungguhnya. Beberapa dari mereka memilih tinggal di dalam kelas, saling bercengkerama antar chairmate sembari menunggu kelas berikutnya. Ada juga yang melepas penat dengan berkumpul di depan kelas, merasakan AC alami sambil bercanda ria karena kelas mereka tidak dilengkapi AC.
Bunyi decitan kursi tak mengganggu yang tertidur terbangun dari alam mimpi. Bagi mereka, sudah hal biasa mendengar bunyi itu didepan kelas saat jam istirahat. Menarik kursi keluar kelas, menjadikannya tempat nongkrong didepan pintu, saling merangkul, menjahili satu sama lain maupun siswa yang lewat sudah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
"Tumben kamu rajin. Baru kali ini aku lihat kamu pegang sapu."
Lou berbicara dengan nada mengejek yang disengaja.
"Alhamdulillah, kejadian langka ini hanya kutunjukkan didepan sang calon pendamping."
Daud menanggapi dengan centilnya.
"Auh siapa orangnya?, saya iri. Bukan aku orangnya? sungguh teganya dirimu padaku" Lou menanggapi.
"Eiihh, kamu kepedean. Bisanya ada orang yang langsung nunjuk dirinya sendiri."
Mail ikut dalam lelucon mereka.
"Iiihhh Mail, kita itu harus pede, kalau bukan kita yang nunjuk diri sendiri siapa lagi?"
Lou kembali bersuara diikuti sorakan dari mereka.
Tawa dan sorakan itu membuat mereka jadi pusat perhatian karena hal sepeleh. Yah, mereka tau jika perbincangan itu hanyalah lelucon dan sekedar melucu saja.
"Kemarikan sapunya."
"Kuserahkan pusakaku kepadamu!"
Daud yang memegang sapu langsung memberikannya dengan muka yang sengaja dibuat serius. Pria yang sedari tadi diam saja, langsung mengambil sapu itu dan meletakkan di depan dadanya seolah memegang gitar sambil menyilangkan kaki.
"ehemm..aa..oo."
Dia berdehem seolah mengetes vokalnya.
"Hari ini, hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun, u..."
Tiba-tiba ia berhenti karena sahutan dari Mail.
"Ulangi, coba ubah bertambah jadi berkurang."Usul Mail.
Dengan sedikit cekikikan dari mereka, ia mulai bernyanyi lagi. Tanpa perintah, mereka bernyanyi bersama denga suara lantang dan mendapat sorakan dari tetangga kelas.
"Ribut!"
"Fals!"
"Suaranya terlalu indah sampai bikin telinga sakit!" seorang siswa tetangga kelas berteriak.
"oh volumenya terlalu kecil? baiklah, tambah volume teman-teman! Hahaha" Lou menanggapi dengan lelucon asal-asalan
Saking asyiknya bercanda dan bernyanyi, suara bel tanda masuk terdengar.
"Woi! Ibu datang, ibu datang!"
Daud yang tak sengaja melihat guru mengarah ke ruang kelasnya, langsung meyuruh yang lain berhenti bernyanyi dan masuk kelas. Dengan hebohnya , dia menarik kursi masuk kelas membuat yang lain kaget hingga terbangun dari alam mimpi.
"Selamat siang anak-anak." Sapa sang ibu guru.
"Siang Bu'." Balas mereka serentak.
"Baiklah hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kemarin tentang gaya."
Ibu guru mulai menjelaskan materi hingga memberi poin-poin penting di papan tulis. Semua anak-anak mecatat materi hingga mengerjakan soal latihan. Sepanjang penjelasan materi, tidak terasa waktu menunjukkan pukul 14:00.
"Saya kira penjelasannya cukup, dan selanjutnya kalian kerjakan soal latihan yang saya tulis didepan."
Suara lembut itu bagaikan gertakan tak bersuara secara tiba-tiba. Suasana yang sebelumnya tenang kini terdengar suara berbisik. Mereka paham, meskipun suara itu terkesan lembut, bukan berarti lembut dalam memberikan nilai. Siapa bisa dia dapat, siapa bisa kerjakan soal dan tepat dia dapat nilai. Jika tak ada sama sekali, maka tugas mereka semua akan bertambah.
"Astaga, langsung sadar semua dari alam mimpi, hihi."
Lou cengingisan dan setengah berbisik ke teman sebangkunya.
"Ia. Eh omong-omong gimana cara kerjanya? bantuin, aku juga mau dapat nilai." Temannya memohon.
"Sssstt...kerja masing-masing. Tapi, sebenarnya ini susah."balas Lou.
Lou menyerah pada rangkaian huruf bercampur angka dipapan tulis yang tercantum rapi dan cantik.
Astaga! Dunia memang selalu memberikan kejutan. Biasanya orang cuman hitung angka dengan angka, sekarang aku dipertemukan huruf dengan huruf menghasilkan angka. Monolog Lou dalam hatinya.
Lou mengedarkan pandangannya disetiap ruangan memperhatikan gerak-gerik teman sekelasnya yang nampak fokus. Ia terkikik sendiri menyadari sebagian dari mereka hanya pura-pura berpikir, lantaran buku tulis mereka masih kosong tanpa coretan tetapi pemiliknya saling tendang kaki dibawah meja.
"Ada yang mau naik kerjakan?"
Suara lembut tersebut kembali menginterupsi Lou dari acara pengawasannya.
Semua siswa langsung mendongakkan kepala tengok kiri-kanan untuk memastikan, siapa yang bakalan jadi penyelamat mereka kali ini.
"Tidak ada?"Lanjutnya.
"Saya pikir kalian sudah paham, masalahnya tidak ada yang bertanya dan kalian hanya diam, makanya ibu langsung berikan soal."
Suasana kembali hening.
"Coba silahkan naik jika ada yang mau kerjakan soalnya."Ibu guru kembali buka suara.
Tiba-tiba seorang siswa naik dengan pedenya kedepan papan tulis. Semua siswa menatapnya dengan senyum tanda kagum dan wajah yang lega. Lou nampak heran.
Woah hebat, bukannya tadi dia tertidur saat guru menjelaskan? Dunia memang selalu penuh kejutan. Lihatlah wajah mereka ckck. Akhirnya mereka bisa melihat pahlawan hari ini, sudah terpampang jelas diwajah mereka. Tapi aku juga berterima kasih padamu friend. Monolognya dalam hati.
Anak laki-laki yang dimaksud adalah Nadir. Pria yang bernyanyi didepan pintu dengan menggunakan sapu sebagai gitar. Dengan modal percaya diri dan muka suntuknya, ia berani kedepan.
"Bisa?"Ibu guru mencoba memastikan.
"Ia."Balasnya. Entahlah, ia untuk apa yang dimaksud.
Saat Nadir menghapus sebagian dari rangkaian huruf yang menghiasi papan tulis, ibu guru langsung menghentikannya dengan pertanyaan.
"Loh! Kenapa dihapus?"sang guru tampak heran.
Suasana hening. Semua pasang mata mengarah ke Nadir yang seketika menghentikan acara menghapusnya dan menatap sang guru dengan muka bingungnya. Hanya suara jam dinding yang terdengar seakan mengerti suasana ini.
"Eh?!"
Nadir tampak kebingungan atas situasi ini. Dia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sesekali melirik ke teman sebangkunya tanda tak mengerti.
"Saya bilang untuk kerja soalnya, memangnya kamu tidak bisa?" Pemilik suara lembut itu kembali bertanya.
"Tidak bisa Bu'!"
"Trus, kamu mau ngapain? Tadi saya tanya bisa apa tidak, kamu bilang ia?!" ibu guru tersenyum kebingungan.
"Saya mau menghapus tulisan ini Bu'."
"Tidak usah dihapus. Papan disebelah masih kosong. Kamu bisa menulis jawabanmu disana." Tunjuk sang guru.
"Saya pikir ibu tadi nyuruh bersihkan papan tulis."
Dengan tampang polosnya, ia sesegera meletakkan penghapus ke meja guru dan kembali ke bangkunya, sesekali dia menggaruk tengkuknya mencoba memahami situasi sekarang. Saat itu juga, gelak tawa memenuhi seisi kelas akan situasi ini.
"Kamu tertidur tadi? Sepertinya kamu masih ngantuk. Wajahmu suntuk sekali." Ibu guru mencoba menahan tawanya dan hanya tersenyum.
"Nadir, coba kamu keluar basuh wajahmu terlebih dahulu. Sepertinya sebagian ragamu belum kembali berkelana dari dunia mimpimu, makanya tadi seperti orang linglung." Sang guru mencoba melucu.
Semua pandangan kembali tertuju kepada Nadir seakan mengantar langkahnya keluar kelas.
"Astaga, aku pikir dia mau ngerjain soal, nyatanya cuman salah dengar." Bisik Lou mengamati punggung Nadir yang semakin menghilang dibalik pintu. Bersamaan dengan itu, bel berbunyi tanda jam pelajaran usai.
"Baiklah sampai disini pelajaran kita hari ini. Karena tidak ada yang bisa menjawab soal dipapan tulis, itu menjadi tugas kalian ditambah dua soal lagi di halaman 53 nomor 2 dan 7." Ibu guru melangkah keluar kelas sesegera mungkin.
"Hyaaa, tambah tugas lagi!" Pekik salah seorang siswa perempuan.
"Sudah kuduga hahaha, dunia SMA." Lou berbicara pada diri sendiri.
"Kamu sudah sampai mana tadi berpetualang di mimpimu?"
Mail mengejek Nadir sesampainya dikelas. Suara gelak tawa kembali pecah.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau tadi itu untuk kerja soal?!"
"Kamu juga tidak bertanya. Mana aku tau kalau kamu salah dengar. Lagian kamu juga langsung nyerocos naik."
Nadir mendekat kearah Mail mencoba menjewernya. Akan tetapi, Mail yang punya tubuh kecil secepat kilat melarikan diri keluar kelas dengan diikuti Nadir yang mengejarnya. Terjadilah aksi kejar mengejar mereka.

Comments