Burung Kebahagiaan
Dahulu kala, seorang anak laki-laki kecil bernama Igor tinggal bersama ibu dan ayahnya di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu.
Keluarga Igor sangatlah miskin. Ayahnya seorang penebang kayu dan ibunya membuat pakaian untuk orang-orang kaya di kota. Rumah mereka berada ditengah hutan besar di Russia Utara. Pada musim panas, hari begitu panjang dan hutan terasa begitu hidup dengan suara burung-burung bernyanyi satu sama lain. Ayah Igor mengajarinya nama-nama burung yang berbeda, dan laki-laki kecil itu segera mengetahui semua lagu mereka. Tetapi di musim dingin, hari begitu singkat, dan salju tebal berada dimana-mana. Hutan menjadi sepi karena burung-burung pergi untuk menghabiskan musim dingin di negara yang lebih hangat.
Pada musim dingin, Igor jatuh sakit. Ibunya membuat makanan dan minuman khusus untuknya, akan tetapi dia hanya menjadi lebih buruk. Dokter dari kota datang melihat Igor, dan menghabiskan beberapa waktu berbicara dengan anak laki-laki itu, dan memeriksanya. Kemudian dia berbicara pada ibu dan ayah Igor.
"Dia sangat sakit, tapi saya tidak tau apa yang salah dengannya. Musim dingin ini banyak anak-anak muda diseluruh negeri menjadi sakit dan meninggal, dan tak ada seorangpun yang tau mengapa. Saya minta maaf tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membantu. Beri dia makanan sehat yang cukup dan pastikan dia beristirahat yang lebih."
Selama beberapa hari kedepan, kondisi Igot memburuk. Dia semakin parah. Sepanjang hari dia berada di tempat tidur, dan menjadi bosan dengan mainannya. Ayahnya membawakan dia hal-hal kecil dari hutan untuk membuatnya lupa jika sakit, tetapi dia tidak tertarik pada apapun. Wajahnya menjadi pucat, dan dia tidak ingin makan. Terkadang pada malam hari dia demam, dan dia bermimpi bahwa dia terbang diatas hutan, melihat rumah kecil keluarganya yang jauh dibawahnya.
Pada pagi hari, setelah malam yang sangat buruk, Igor terbangun dan mendapati ayahnya memandangi dirinya.
"Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?" kata ayahnya.
"Ya, ada, ayah," kata Igor." Aku rindu nyanyian burung-burung. Dapatkah ayah menangkap seekor burung dan menaruhnya disangkar untukku? Jika ayah meletakkan sangkar diatas tempat tidurku, aku dapat mendengar nyanyian burung dan mengingat suara di hutan."
"Tentu Igor kecil," kata ayahnya, tersenyum. " Ayah akan membawakanmu burungmu besok."
Tapi dia tahu, sekarang musim dingin, tidak ada burung di hutan. Ini satu-satunya hal yang diinginkan anaknya, dan dia tidak bisa memberikan itu padanya.
"Mungkin kamu bisa membuatkannya burung dari kayu?" kata ibu igor.
"Kamu bisa menggunakan potongan kayu kecil yang biasa kita jadikan kayu bakar."
Sangat dingin, hari yang bersalju, dan pepohonan di hutan sulit untuk ditebang. Tapi sepanjang hari, saat ia bekerja, ayah Igor memikirkan tentang cara membuat burung dari kayu untuk putranya. "Tentu saja! Itu tak akan pernah bisa bernyanyi," dia berkata pada dirinya sendiri, "tapi mungkin jika itu indah, Igor kecil akan tetap menyukainya."
Setelah makan malam, dia mulai membuat burung. Beberapa kali pertama ia mencoba tidak bagus. Burung-burung yang sudah jadi semuanya terlalu gemuk dan berat untuk terbang. Dia menaruhnya satu persatu kedalam api, dan berpangku tangan. Sudah tengah malam, dan diluar salju lebat turun. Tiba-tiba ia berkata pada dirinya sendiri, "aku tahu! Burung itu hanya perlu dua potongan kayu. Jika saya memotong kayu dengan hati-hati, burung itu bisa memiliki bulu asli." Pertama ia mengambil potongan kayu untuk bagian kepala, tubuh, dan ekor. Dia mulai pada bagian ekor, memotong kayu menjadi bulu-bulu dengan tangan kanannya. Selanjutnya, dengan tangan kirinya, ia menghaluska bulu-bulu itu. Saat ia merasa bahagia pada bagian ekor, ia mengambil lagi beberapa kayu untuk sayap. Dia memotongnya dengan hati-hati. Semua itu membutuhkan waktu yang lama karena terkadang bulu-bulu itu patah dan dia perlu untuk mengulanginya lagi. Tapi pada akhirnya, ia menyelesaikannya. Ketika matahari mulai nampak dia menunjukkan burung itu kepada istrinya.
"Ini sangat indah," dia berkata. "Tapi ini belum siap."
Dia mengambil jarum dan beberapa benang dan dengan hati-hati ia menjahit ujung-ujung bulu ekor dan bulu sayap bersama-sama. Segera bulu-bulu itu bersatu. persis seperti burung sungguhan. Kemudian dia mengikat benang yang panjang ke bagian tengah punggung burung. Dengan cara ini mereka dapat menggantungnya di atas tempat tidur Igor. Mereka memandangi burung itu bersama.
"Sekarang sudah siap," kata si tukang kayu, " aku akan membawanya kedalam kamar Igor kecil."
Igor terlelap. Dengan tenang ayahnya menggantung burung itu di atas tempat tidur anak laki-laki itu. Dia berdiri dan melihatnya. Burung itu berputar perlahan-lahan diutasnya. Si tukang kayu pergi dengan rasa bahagia ke tempat tidurnya untuk beristirahat setelah bekerja sepanjang malam.
Kemudian pagi itu, dia kembali ke kamar Igor. Burung itu berputar perlahan-lahan diatas kepala Igor. Putranya memperhatikan burung itu dengan teliti. Ada cahaya harapan dimatanya untuk pertama kali dalam beberapa minggu.
"Ini sangatlah indah, ayah," kata Igor. "Terima kasih. Tapi aku tidak pernah melihat burung seperti ini sebelumnya di hutan. Apa namanya?"
"Itu adalah pertanyaan yang bagus. Akan aku temukan dan memberitahukanmu nanti."
Pagi selanjutnya, ketika si tukang kayu pergi ke kamar anaknya, ia menemukan anak lelaki itu duduk di tempat tidur, mencoba untuk menyentuh burung itu. Waktu ketika Igor duduk di tempat tidur untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu berlalu, pikirnya.
"Jadi apa namanya, ayah?" tanya anak laki-laki itu.
"Aku masih belum yakin, " balas ayahnya.
Malam itu, ayah Igor pergi ke kamar putranya dan dengan tenang membuat benang itu sedikit pendek. Sekarang burung itu menggantung sedikit tinggi di atas kepala Igor. Tiga hari kemudian, dia menemukan Igor berlutut ditempat tidur, mencoba untuk menyentuh burung itu. Tangannya hampir menyentuh.
"Sudahkah kamu memutuskan nama dari burungku, ayah?" tanya Igor.
"Belum, putraku. Aku akan memberitahukanmu nanti," balas ayahnya.
Lagi, ayahnya pergi ke kamar putranya dimalam hari dan meletakkan burung itu lebih tinggi lagi.
Lima hari kemudian, Igor berdiri di atas tempat tidur, dan hampir menyentuh burung itu.
"Ayah, bantu aku. Aku ingin membyatnya berputar," katanya.
"Terus berusaha, itu tidak setinggi yang kamu pikirkan," balas ayahnya.
"Dan kapan ayah memberitahukanku namanya?"
"Secepatnya, putraku ," balas ayahnya.
Tujuh hari kemudian, ayah Igor sedang memotong kayu ketika ia mendengar suara aneh berasal dari rumah. Dia berlari dengan cepat ke arah kamar putranya. Igor melompat-lompat diatas tempat tidurnya, tertawa. Diatas kepalanya burung itu berputar dengan cepat.
"Lihatlah, ayah. Aku menyentuh burung Ini!" teriak Igor kegirangan." Sekarang, katakan padaku. Apa namanya?"
"Namanya adalah burung kebahagiaan," balas ayahnya. Ibunya berdiri dipintu kamar, tersenyum melihat putranya penuh semangat hidup sekali lagi.
_________________________________________________________
Teks video Youtube:Learn English Through Story
Terjemahan: nani Muliani
________________________________________________________

Comments