I'm not fine


Kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Kamarku kubiarkan gelap tanpa penerangan. Hembusan nafas kasarku memecah keheningan dan udara yang dingin.

Aku hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan. Bisakah kalian memberikanku dukungan tanpa tekanan ini?

Aku lelah. Apakah kalian mengerti keadaanku? Aku terlihat baik-baik saja dari luar dimata kalian, tapi dari dalam diriku begitu tersiksa. 

Aku tersenyum, tertawa bersama kalian ditengah kebahagian dan keramaian. Aku tertawa bukan karena kesenangan ataupun kebahagiaan ini. Aku menertawakan diriku sendiri yang begitu munafik. Aku menangis bukan karena menangis bahagia, akan tetapi menangisi diriku yang malang.

Aku merasa sepi, merasa sendiri, hampa, ditengah keramaian bersama kalian.  Bisakah kalian mengerti akan diriku? Aku berada ditengah-tengah kehidupan kalian, tetapi kalian terasa begitu jauh. Kalian berbicara kepadaku tapi entah siapa sebenarnya kata-kata itu ditujukan.

Aku hanya bisa berperang batin dan pikiran dengan terlentang ditempat tidur. Kuhalangi pandanganku ke langit-langit kamar dengan lenganku. Helaan nafas isyarat kekecewaan akan diriku.

Dunia ini begitu luas. Aku ingin bebas menikmati hidup dan tak ingin menjadi beban hidup seorang pun, tapi aku terjebak ditengah ruangan yang menyedihkan ini. Bohong jika aku tidak membutuhkan kalian, tapi ketenangan dan kenyamanan hanya dapat menghampiriku saat aku sendiri.

Gelap, hampa, sunyi, sepi, itulah kata-kata yang mewakili keadaan dimana aku berada saat ini. Aku berdiri ditengah ruangan dengan kebingungan. Disudut ruangan, anak kecil duduk bersandar dibawah jendela menekuk lutut dan menelusupkan wajah kedalam lututnya.  Aku tersenyum karena masih ada yang menemaniku ditempat ini. Kulangkahkan kakiku untuk menghampirinya. Punggung yang terlihat begitu rapuh dibawah sinar sang rembulan yang melewati celah jendela. Kuingin menepuk pundaknya, tapi sebuah suara isakan dari belakang menghentikan langkahku mendekatinya. Anak kecil itu tetap pada posisinya tanpa terusik sedikitpun.

Aku berbalik dan mencari sumber isakan itu. Langkah kecilku menggema diruangan ini. Dari sisi ruangan, kulihat seorang anak kecil membelakangiku dengan kepala tertunduk dan terisak. Kucoba mendekat untuk menenangkannya. Akan tetapi, semakin kulangkahkan kakiku suara isakan itu semakin kecil. Semakin ku mendekatinya ia semakin menjauh, hingga tubuhnya menghilang ditengah kegelapan. Tidak, aku tidak mengerti keadaan ini. Tanganku yang mencoba meraih pundaknya, kini hanya bisa menggenggam udara kosong.

Kutolehkan kepalaku kebelakang dan anak yang pertama kutemui tetap pada posisinya. Aku perlahan berjalan kearahnya, hingga langkahku semakin kupercepat. Tapi, tetap sama. Tubuh anak kecil itu juga semakin menjauh saat aku berusaha mendekatinya. Sekali lagi hal ini terjadi. Tubuhnya semakin jauh dan menghilang ditengah kegelapan. Aku terdiam. Entah mengapa ruangan ini terasa semakin luas tapi dadaku terasa sesak.

Bayangan kedua anak itu masih terngiang dikepalaku. Tidak terasa air mataku menetes. Kakiku terasa lemas. Aku berjalan sempoyongan kesudut ruangan untuk mencari sandaran sambil menekan dadaku yang sesak. Hingga aku sampai disudut ruangan dan menjatuhkan diri karena kakiku yang lemas tak mampu lagi menopang tubuhku. Kusandarkan punggungku dengan menekuk kedua lutut. Rasa sesak ini semakin menghilang seiring kutundukkan kepala dan memeluk kedua lututku erat. Tak seorangpun disini kecuali diriku. Aku larut dalam pikiranku dan keheningan ini semakin menyiksaku.

Tak adakah yang bisa kulakukan untuk merubah keadaan ini? Hidupku begitu pasrah akan kesulitan.

Aku berdiri lalu melangkah untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Akan tetapi, pada akhirnya aku berakhir ditengah ruangan ini. Seketika sisi ruangan sebelahku nampak begitu terang menampilkan beberapa orang yang sedang bersenda gurau diruang tamu. Aku melangkah sambil tersenyum kearah mereka. Akhirnya kutemukan jalan keluar dari tempat ini.

"Hei!"

Aku mulai menyapa , berharap mereka melihatku dan membalas lambaian tanganku.

Namun, senyumku luntur tatkala mereka tak menghiraukanku. Apakah mereka mengacuhkanku? Rasa panik mulai muncul dari benakku. Aku berlari ke arah mereka tapi mereka semakin menjauh. Kejadian ini terulang lagi. Air mataku mulai berjatuhan menemani langkahku yang semakin kecil, hingga bayangan mereka hilang ditengah kegelapan. Tawa mereka masih jelas menggema disetiap sudut ruangan ini. Seketika aku sadar jika aku masih berada ditengah ruangan ini. Aku hanya dapat tersenyum miris.

Apakah sebelumnya aku tidak melangkah sedikitpun dari posisiku saat ini? Bahkan saat aku berusaha, tak ada yang berubah sedikitpun.

Aku kembali melangkahkan kakiku ke arah siai tembok yang tadinya begitu terang. Namun, aku hanya diam berdiri menghadap tembok dingin yang bisu. Tawa merekapun telah lenyap. Kukepalkan erat tanganku dan menunduk. Air mataku tak bisa lagi kubendung. Tubuhku gemetar sambil terisak.

Bayangan anak kecil yang sebelumnya kutemui kini kembali memenuhi pikiranku. Keadaan mereka persis dengan diriku saat ini.

Apakah beban kalian begitu berat hingga tak mampu mengangkat wajah kalian? Apakah kalian begitu menderita ditempat gelap ini atau kalian mengalami hal yang sama denganku? Apakah kalian merasa sendiri? Tak ada seorangpun kah yang menolong kalian dari kegelapan dan kesendirian ini?Aku berharap semua itu tidak benar. Aku tau ini begitu berat jika anak kecil seperti kalian mengalaminya. Cukup diriku saja yang mengalaminya.

Aku semakin terisak. Aku kembali berdiri dengan rasa putus asa. Langkah kaki menuntunku ke tempat tidur di sudut ruangan yang telah menjadi saksi akan rapuhnya punggungku sedari kecil hingga saat ini. Ku rebahkan tubuhku dan memejamkan mata.

Jika ini hanya mimpi, tolong bangunkan aku.

"Please, save me!"

Tapi, hanya gema menyedihkan yang terdengar. Harapanku perlahan lenyap.


that picture belongs to me
gambar dan edit ulang















Comments