Ingin Sakit Kuning

Hembusan angin sore di hari kamis menerpa wajahku yang begitu serius. Sekarang aku berada diantara ibu-ibu rumah tangga dibawah kolong rumah tetangga. Tangan kami sibuk membuat bulatan dari adonan beras ketan, tapi mulut kami sibuk berceloteh dan bergurau. 

Sang mentari mulai menuju tempat peristirahatannya karena kelelahan dalam perjalanan dari ufuk timur ke barat. Meskipun suara adzan sebentar lagi akan dikumandangkan, kami tetap pada kegiatan kami membuat kue dalam jumlah besar sebagai persiapan esok hari. Besok akan ada seorang warga yang memindahkan rumah panggungnya. Jadi kami kaum hawa hanya bisa bantu lewat masak, sedangkan kaum adam bergotong royong mengangkat rumah.

Aku duduk diantara ibu-ibu. Dihadapanku, ada seorang wanita paruh baya yang berceloteh akan kondisi keuangannya sambil membuka tas sehingga terlihat uang dari balik tasnya itu.

"Oh kasihan, seharian aku dipasar berjualan tapi tidak ada uang." Ia tertawa.

Sesekali ia memegang pergelangan tangannya seolah memperbaiki letak gelang yang seakan menjeratnya dan sesekali ia memperhatikan tangannya. 

Tiba-tiba salah seorang wanita disamping kananku berkata," eeee, kapan aku bisa kena sakit kuning? Sudah lama aku menginginkannya."

"Aduh, siapa itu yang mau sakit kuning. Bahaya." yang lainnya menimpali dan cekikikan.

"Ia, sakit kuning. Tapi, sepertinya belum bisa."

Yang lain tertawa dan aku terdiam kebingungan.

Orang mau sehat, eh ibu ini malah mau sakit. Aneh. Tapi, tunggu dulu. Eeyy, tidak mungkin.Monologku.

Tapi, karena sudah magrib, aku harus beranjak dari kegiatanku. Mereka masih saja membahas penyakit kuning, meskipun ibu dihadapanku tadi berusaha mencari topik lain. 

Diperjalanan ke rumah, aku tetap memikirkan tentang penyakit kuning. Seketika, aku tersenyum geli. 

"Ya ampun, bodohnya kau Nay! ahaa, jadi itu maksudnya." Kataku pada diri sendiri.

"Kalau itu yang dimaksud, semua orang juga mau sakit kuning. Astaga, bikin salah paham saja ibu tadi. Adeuh, pasti ada yang disindir tadi tuh."

Aku yakin, ibu yang dihadapanku tadi yang disindir tuh. Kalau mengingat cerita dari keluargaku yang kebetulan juga mendapat cerita dari para tetangga, ibu itu memang sering ngumbar kelebihannya. Jadi, tidak aneh jika orang ikut nyinggung. Monologku.

"Hah, sampai jumpa esok hari dunia!"


Comments