Labirin Pilihan | Di hari Idul Fitri



"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Siti menggenggam erat handphone ditangannya yang gemetaran.

Sudah hampir enam bulan lamanya Siti meninggalkan Ayah beserta neneknya di kampung. Ia mengambil keputusan untuk merantau ke pulau seberang hanya satu niat, untuk mencari kerja agar dapat membantu sang ayah.

Banyak hal yang ia pikirkan saat mengambil keputusan ini. Meninggalkan ayahnya yang sudah berumur setengah abad dengan neneknya yang hampir berumur 90 tahun. Siapa yang akan mengurus ayah dan neneknya saat ia tak ada. Siapa yang akan membersihkan pakaian kotor mereka saat dirinya tak ada. Saat ia kelak bekerja di tanah rantau dan harus menetap, siapa yang akan menemani ayahnya saat neneknya sudah tiada? Tapi demi masa depan, Siti menepis semua pertanyaan itu dengan satu pernyataan, untuk membantu ayahku.

Ditanah rantau, Siti tidak tinggal sendiri ataupun mengontrak rumah. Dia tinggal bersama keluarga baru ibunya. Sebagai keluarga yang baru, mereka cukup baik.

"Tidak usah kamu pikirkan kampung terus. Bapak usahakan agar kamu dapat pekerjaan disini. Tidak usah kamu hiraukan cerita yang tak baik dari kampung." Ayah tiri Siti berkata.

Tapi, ini tak semudah hanya dengan mengeluarkan kata-kata klise.

"Ia, aku paham. Tapi sangat susah. Aku tak tahu harus bagaimana." Siti
"Aku tak mau dianggap sebagai anak yang tak tau diri karena meninggalkan ayah dan nenek yang sudah merawatku dari kecil dan justru tinggal dan hidup senang dengan ibunya di tanah rantau." Lanjutnya.

"Itu kan hanya pemikiran kamu saja, kamu datang merantau kan semata-mata untuk cari kerja untuk mereka juga. Jadi tak usah dipikirkan." Ayah tirinya berkata.

Awalnya, hubungan Siti dengan ayah dan neneknya baik-baik saja. Siti masih dengan jelas mengingat sebelum berangkat, ia memeluk ayah dan neneknya seraya berkata aku akan berkunjung saat lebaran tahun ini. Akan tetapi setelah dua bulan berlalu semenjak Siti merantau, ia sering mendengar cerita tak menyenangkan dari kampung melalui sepupunya.

Situasi ini membuat Siti begitu bimbang, apalagi rasa bersalah akan janji yang ia ucapkan pada sang ayah yang tidak bisa ia tepati. Ia ingin berkunjung, tapi ia tak punya biaya pulang. Siti tidak berani meminta bantuan pada ibunya dengan alasan tak ingin merepotkan. Ia juga tak ingin merepotkan ayahnya di kampung karena ia paham bagaimana kondisi keuangan ayahnya.

Setelah bercakap-cakap dengan ayah tirinya, Siti masuk kamar meninggalkan ayah tirinya di ruang tamu yang kebetulan kedatangan tamu. Siti memilih bercerita pada ayah tirinya agar ia bisa mencari  tau apa yang harus ia lakukan pada situasi ini meskipun ia tidak menceritakan tentang keinginannya untuk berkunjung ke kampung.

Siti memilih menyendiri dikamar. Setelah bercerita kepada ayah tirinya, Siti merasa sebagian bebannya hilang.

Siti telentang ditempat tidur. Ia begitu putus asa. Hari ini adalah hari dimana ia seharusnya berbahagia bersama keluarga menyambut hari kemenangan, tapi hari ini justru menyedihkan bagi Siti. Ia memikirkan keadaannya. Hampir enam bulan ia merantau tapi belum dapat kerja. Tekanan dari kampung, dari tempat sekarang ia berada, tekanan dari saudaranya dan kini ayahnya yang mogok bicara dengannya. Siti paham jika hubungan sang ayah dan ibunya tidak baik.

Siti masih mengingat jelas saat ia menelpon ayahnya untuk memastikan kabar yang ia dengar dari kampung.

" Ayah, sebenarnya kalian ikhlas aku pergi merantau atau tidak? Aku merantau karena dulu kalian sendiri yang mengizinkan. Seandainya dari awal kalian mengatakan jika tidak setuju, aku tak akan pergi. Jika memang kalian tidak suka aku tinggal dengan ibu aku akan pulang. Tolong kirimkan saja saya uang untuk tiket pesawat, tidak mungkin aku meminta sama ibu karena aku cukup tau diri."

"Untuk apa kamu pulang! Bukannya kamu sudah senang hidup disana?! Itukan yang kamu cari? Sudah! Aku sibuk kerja." kata ayahnya sinis dengan suara tinggi.

"Oh, begitu!" Siti membalas sekenanya saja dan memutuskan kontak .

Semenjak itu, Siti tak pernah lagi mendengar suara Ayahnya hingga saat ini. Bukan karena ia tak menghubungi ayahnya, tapi tiap kali Siti menghubunginya, Ayahnya tak pernah mengangkat panggilannya.

Benar jika Siti berada di tanah rantau tapi pikirannya berada di kampung.
Kabar orang kampung mengatakan bahwa, "apa gunanya ia tinggal bersama ibunya kalau uang saja masih dikirimkan dari kampung, lebih baik suruh saja ia pulang Kampung."
Selain itu, kabar bahwa neneknya mengatakan, "Aku yang merawatnya dari kecil hingga besar, tapi ibunya yang mengambil untung  saat ia sudah besar." Juga, kabar ayahnya yang hendak menjual semua ternak seraya berkata "untuk apa aku tinggal di kampung ini, anakku juga sudah tak ada untuk ku nafkahi." 

Semua itu membuat Siti cukup pusing. Ia merantau hanya untuk mencari kerja, bukan untuk bersenang-senang bersama keluarga ibunya yang memang orang berada. Tapi bukan berarti Siti harus meminta materi pada ibunya. Bukannya sang ibu tidak memberi, ibunya sering menawari tapi Siti cukup tau diri, bukan hanya dirinya saja yang jadi anak disini. Tak bisakah orang lain memahami alasan Siti?

Siti hanya tak ingin jika cerita-cerita itu sampai didengar oleh ibunya.
Ibunya pernah berkata pada Siti sebelum merantau, "Tak apa jika kamu datang selama kamun diizinkan, jika ada yang keberatan kamu kesini, lebih baik tak usah. Saya tidak ingin pada akhirnya mendengar kata-kata yang tak nyaman dari mereka, karena saya sadar bukan aku yang membesarkanmu. Jadi ayah dan nenekmu yang lebih berhak atas dirimu."

Oleh karena itu, Siti tentunya tak ingin menjadi atau bahkan membawa masalah pada ibunya. Diberi kesempatan tinggal dirumah mereka saja sudah cukup bagi Siti, setidaknya ia tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk sewa rumah bukan? Lagian apa kata orang nantinya jika ia harus kontrak rumah sedangkan disana ada rumah ibunya yang bisa ia tempati.

Siti memang pernah sempat bekerja disebuah toko yang gajinya memang tak seberapa dibanding dengan gaji dari karyawan ibunya dipasar. Tapi hanya seminggu, Siti terpaksa berhenti karena kurang nyaman akan situasinya. Saat itu, ia membantu ibunya dipasar menggantikan salah satu pekerja ibunya yang sedang ibadah. Salah seorang pedagang datang menghampiri Siti dan berkata,
"Untuk apa kamu kerja diluar sana, mending kamu dipasar saja bantu-bantu ibumu. Masa kamu lebih memilih mencari kerja dari orang lain sedangkan ibumu memperkerjakan orang lain?

Ada juga yang mengatakan pada Siti jika ibunya pernah berkata,
"Anakku pergi mencari gaji dari orang lain sedangkan aku ibunya memberi gaji kepada orang Lain."

Juga, mereka sempat mengatakan, "kamu tidak usah kerja, lanjutkan saja usaha ibumu, atau kamu kerja saja ditempat ibumu ini. Kamu juga akan dapat gaji dari ibumu."

Semua kata-kata itu sungguh membuat Siti tak nyaman. Disatu sisi Siti berjanji kepada keluarganya dikampung untuk mencari kerja, bukan malah melanjutkan usaha sang ibu. Disisi lain Siti merasa tak nyaman tinggal dirumah sang ibu jika ia mencari kerja.

Bukan karena gaji atau usaha sang ibu yang diinginkan Siti. Tapi ia ingin mandiri dan bekerja normal dengan memanfaatkan ijazahnya. Tapi, terpaksa Siti berhenti dari toko.

Selain itu, Siti juga harus menahan tekanan dari saudaranya. Siti tau jika hubungan sang ibu dengan saudaranya tidak dalam keadaan baik. Siti harus menuruti perintah sang kakak untuk membantunya memenuhi segala permintaannya akan uang. Kadang Siti berfikir, mengapa ia harus memiliki saudara seperti ini. Dirinya dapat uang dari mana, sedangkan ia tak bekerja. Ancaman sang kakak akan menjual laptop Siti jika tak membantu menyampaikan pesan kepada orang tuanya agar diberikan uang membuatnya pusing apalagi laptopnya sangat berharga karena pemberian sang ayah dari gaji yang didapatkannya dengan susah payah.

Semua masalah itu dipikirkan Siti tiap hari. Hingga hari Idul Fitri ini, Siti kembali menelpon sang ayah untuk memperbaiki komunikasi mereka, tapi tetap sama. Ayahnya tak merespon.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Siti untuk yang kedua kalinya, tapi tak aa yang menjawab. Tak ada yang memberikan solusi yang bisa mengurangi bebannya.

Kini, Siti hanya bisa menangisi keadaannya. Rasa bersalah akan janji terus menghantuinya. Entah keputusan apa yang akan ia ambil esok hari.




that picture belongs to me
Gambar dan edit ulang














Comments